Headlines News :
Seutama utama Ibadah Ummatku, ialah Membaca Al-Qur'an (HR.Abu Nu'aim)

Total

Protected by Copyscape Online Plagiarism Software
Powered by Blogger.

Sabar dan Syukur ( Ridha)


Assalamualaikum Wr. Wb.
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ يَقْضِيْ بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ وَيَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ ، يُقَدِّرُ اْلأُمُوْرَ بِحِكْمَةٍ ، وَيَحْكُمُ بِالشَّرَائِعِ لِحِكْمَةٍ وَهُوَالْحَكِيْمُ اْلعَلِيْمُ ، أَرْسَلَ الرُّسُلَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ، وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ اْلكِتَابَ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَااخْتَلَفُوْافِيْهِ ، وَلِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَيُؤْتُوْا كُلَّ ذِيْ حَقٍّ حَقَّهُ مِنْ غَيْرِغُلُوٍّوَلاَتَقْصِيْرٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَمَ تَسْليمًا

Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah SWT

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan yang tak terhingga untuk kita semua, semenjak kita lahir sampai saat sekarang ini nikmat Allah tidak ada henti-hentinya Dia berikan kepada kita.
Di antara nikmat Allah yang paling besar yang harus kita syukuri adalah nikmat Islam dan iman. Keislaman dan keimanan adalah sebesar-besarnya jalan yang mengantarkan seseorang berbahagia hidup di dunia terlebih lagi di akhirat. Berbeda dengan orang-orang kafir, orang yang ingkar kepada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW, mereka terancam dengan kekal diadzab di neraka. Rasulullah SAW bersabda,
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ؛ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
Demi Allah, tidaklah seorang pun dari umat ini, entah itu Yahudi atau Nasrani, yang mendengar tentang diriku, lalu ia mati dalam keadaan belum beriman dengan risalahku, melainkan ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu kita ucapkan puji dan syukur kepada Allah yang telah melahirkan kita dari orang tua yang muslim, sehingga kita pun menjadi seorang muslim dan tumbuh di lingkungan orang-orang Islam. Hal yang tidak dinikmati oleh bayi-bayi yang lahir dari orang-orang kafir sehingga mereka tumbuh menjadi orang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kemudian shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta pengikut beliau hingga akhir zaman.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Kehidupan ini tidak terlepas dari cobaan dan ujian. Tidak ada seorang pun yang terlahir ke dunia tanpa mengalami ujian sedikit pun. Seseorang yang kaya dan berharta, ia Allah uji dengan kekayaannya, apakah ia bersyukur atau malah kufur. Seseorang yang hidup dalam keadaan kurang, maka tidak diragukan lagi ini adalah cobaan kehidupan. Allah uji orang tersebut apakah ia bersabar atau malah menempuh cara-cara yang Allah haramkan demi terbebas dari kemiskinan.
Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dari kalangan manusia agar kita sesama manusia bisa mencontoh rekam jejak perjalanan Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa di antara kita yang mengalami kemiskinan? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah merasakan kemiskinan. Istri beliau, ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha menuturkan “Dapur Rasulullah tidak pernah hidup (apinya) tiga hari berturut-turut.” Siapa di antara kita yang menikmati kekayaan? Beliau pun seseorang yang merasakan kekayaan, “Beliau berikan seluruh domba beliau yang banyaknya memenuhi antara dua bukit kepada seseorang, agar orang tersebut dan kaumnya menerima hidayah Islam.”
Siapa yang bersedih mencela takdir karena kehilangan anggota keluarganya? Beliau kehilngan ayah beliau ketika di dalam kandungan ibunya, ditinggal wafat ibunya ketika beliau berusia 6 tahu, kemudian kakek dan pamannya pun wafat meninggalkan beliau. Beliau juga ditinggal wafat dua orang istri beliau di masa hidupnya, beliau menyaksikan anak-anaknya wafat terlebih dahulu meninggalkan beliau, namun beliau adalah hamba Allah yang bersabar.
Namun terkadang karena kelemahan iman, sering mendengar ada orang-orang yang mengatakan “Ah, beliau kan Nabi dan Rasul Allah yang dibimbing oleh wahyu, jadi wajar beliau bersabar.” Kalimat ini hakikatnya tidak patut diucapkan bagi orang-orang yang beriman kepada beliau. Buktinya ada orang-orang yang shalih yang mereka bukan Rasul dan bukan pula Nabi, namun mereka bersabar ketika ditimpa musibah.

Kaum muslimin, jamaah Jumat rahimani wa rahimakumullah.                                              

Pada kesempatan kali ini, kita akan membawakan sebuah kisah seseorang yang memenuhi hidupnya dengan kesabaran ketika ditimpa musibah dan bersyukur di saat lapang. Cerita ini dikisahkan oleh Abdullah bin Muhammad dan diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Kitab ats-Tsiqat. Abdullah bin Muhammad menuturkan:
Suatu hari ketika aku menjaga di daerah perbatasan Aris di wilayah Mesir, aku melihat sebuah kemah yang sempit di padang pasir yang terik. Lalu aku pun mendekati kemah tersebut. Aku melihat ada seorang laki-laki yang kedua tangannya buntung, kedua kakinya pun tiada, ditambah telinga yang sudah tuli dan mata yang telah rabun. Namun aku mendengar ia mengatakan
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَأَنْ فَضَّلْتَنِي عَلَى كَثِيْرِ مِمَّنْ خَلَقْتَ تَفْضِيْلًا
Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku danbersyukur atas kemuliaan yang Engkau berikan kepadaku atas hamba-hamba-Mu yang lain.”
Maka aku pun heran dengan apa yang ia katakan. Lalu aku mendekatinya dan aku tanyakan “Wahai saudaraku atas nikmat Allah yang mana engkau bersyukur?” Ia mengatakan, “Diamlah! Kalau sekiranya Allah datangkan lautan niscaya laut tersebut akan menenggelamkanku, atau ia datang api yang menggunung tentulah api tersebut akan membakar tubuhku, atau ia jatuhkan langit pastilah langit itu menghancurkanku. Tapi aku akan senantiasa bersyukur kepada-Nya.” Aku katakana, “Bersyukur atas apa?” Ia menjawab “Dia telah menganugerhkanku lisan, yang senantiasa mengingat dan bersyukur kepada-Nya.”
Lalu ia melanjutkan, “Saudaraku, aku memiliki seorang anak yang biasa menyuapiku ketika akhu hendak makan dan mengantarkan aku untuk beribadah. Namun tiga hari ini aku kehilangannya. Tolong carikan ia untukku.” Aku pun mencarikan anaknya, ternyata sang anak diterkam oleh hewan buas. Aku merasa bingung, kalimat apa yang akan aku sampaikan sementara keadaannya sekarang saja sangat memprihatinkan.
Lalu aku datang kepadanya, aku buka cerita dengan mengisahkan kisah Nabi Ayyub. Aku katakana,  “Wahai saudaraku tahukah engkau tentang Ayyub?” “Iya aku mengetahuinya.” Jawabnya. “Bukankah Allah telah menjadikannya miskin, lalu bagaimana keadaannya?” kataku. Ia menjawab, “Ia bersabdar.” Allah pun mewafatkan anak-anaknya, bagaimana keadannya?” Sambungku. “Ia bersabar.” Jawabnya. Lalu Allah pun menambah musibahnya dengan penyakit di tubuhnya, bagaimana keadaannya? Tanyaku lagi. “Ia bersabar.” Lalu ia memotong, “Saudaraku, katakana dimana anakku! Aku sangat lapar.” Aku katakana, “Berharaplah pahala dari Allah atas musibah yang menimpamu, anakmu dimangsa hewan buas.” Lalu ia mengucapkan, “Alhamdullah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkanku keturunan yang tidak bermaksiat kepada-Nya sehingga ia tidak diadzab di neraka.” Lalu ia tersendak dan wafat.
Melihat keadaan demikian, aku pun sempat merasakan kebingungan. Bagaimana harus memandikan, mengafani, dan menguburkannya seorang diri. Tak lama setelah itu, datanglah empat orang penunggang kuda menghampiriku. Mereka bertanya, “Wahai saudara, apa yang menimpamu?” Aku menjawab, “Aku bersama seseorang dan ia telah wafat.” Lalu mereka meminta jasad yang telah kututupi itu dibukakan wajahnya, bisa jadi mereka mengenal jasad tersebut.
Sontak ketika melihat wajah jenazah tersebut mereka berteriak “Subhanallah!! Ini adalah mata yang senantiasa menangis karena Allah, wajah yang tertunduk karena takut kepada Allah, dan tangan yang senantiasa digunakan berdoa kepada Allah.” Aku pun bertanya, “Wahai saudaraku, apakah kalian mengenalnya?” Mereka menjawab, “Engkau tidak mengenalnya?! Ia adalah Abu Qilabah sahabat dari Abdullah bin Abbas (sepupu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ia menghindar dari jabatan hakim.”
Akhirnya kami mandikan, kafankan, dan kami kuburkan ia. Keempat penunggang kuda itu pun melanjutkan perjalanan dan aku kembali berjaga-jaga di daerah perbatasan.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah Kedua

إِنّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah
Kisah Abu Qilabah tidak hanya usai sampai disitu saja. Ia adalah seorang yang bersabar dengan musibahnya dan senantiasa bersyukur kepada Allah dengan lisannya. Lalu apa buah dari amala agungnya ini. Abdullah bin Muhammad kembali menuturkan kisahnya:
Di malam hari aku pun bermimpi di tengah lelapnya tidurku. Aku melihat seorang laki-laki mengenakan sutera hijau yang indah, berjalan dengan penuh wibawa, di sebuah taman (yang dalam mimpiku) surga. Laki-laki itu mengulang-ulang ayat
سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
Keselamatan atas kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’du: 24)
Aku menghampirinya dan bertanya, “Wahai saudaraku, bukankah Anda adalah orang yang kemarin kami makamkan?” “Iya” Jawabnya. “Apa yang membuatmu mencapai derajat yang mulia ini?” Tanyaku lagi. Ia menjawab, “Sesungguhnya di surga itu ada sebauh derajat, yang tidak akan diperoleh kecuali dengan bersabar ketika ditimpa musibah dan bersyukur di kala lapang.”
Demikianlah buah kesabaran, seseorang mencapai derajat yang tinggi lagi mulia di dunia dan akhirat. Bisa jadi di dunia orang yang sabar itu terlihat hina di mata orang lain, namun ia tetap mulia di sisi Allah dalam kehidupan dunianya. Jangan sampai kita bersyukur kepada Allah tatkala lapang dan mencela serta protes tatkala ditimpakan kesempitan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَأَمَّا اْلإِنسَانُ إِذَا مَاابْتَلاَهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ {15} وَأَمَّآ إِذَا مَاابْتَلاَهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ {16}
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” (QS. Al-Fajr: 15-16)
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan kita hamba yang senantiasa bersyukur kepadanya di kala lapang dan bersabar saat mendapatkan kesempitan.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمِينَ.

Jujur dan Larangan Dusta (Bryan)


·         KHUTBAH JUMAT PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعْيِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا , مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدُّ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَللَّهُمَّ صَـلِّ وَسَـلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى بَعْدَ أَنْ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُواْ اللَّهَ وَقُوْلُواْ قَوْلاً سَدِيداً ,  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً
أَمَّا بَعْدُ:
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ  وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Segalapujihanyamilik Allah SubhanahuwaTa’ala, yang telahmemberikankitapetunjukkepadaadab yang paling sempurnadanmembukakansebagianpintu-pintukebaikandansemuapintukemenangan. Akubersaksibahwatiada ilâh yang benarkecuali Allah SubhanahuwaTa’ala semata; yang MahamulialagiMahaPemberi. Dan akubersaksibahwa Muhammad shallallahu ‘alaihiwasallam adalahhambadanutusan-Nya. Beliauadalahmanusia yang paling baikakhlaknya. SemogaSalawatsenantiasatercurahkepadabeliau, keluargadankaumMuslimin yang mengikutibeliaudenganbaikhinggaharikiamat.
Ammaba`du
WahaikaumMuslimin, marilahkitabertakwakepada Allah SubhanahuwaTa’ala. Marilahkitamenjadi orang-orang yang jujur, berlakubaikkepada Allah SubhanahuwaTa’ala dankepadaseluruhmakhluk, jikakitamemangbenar-benar orang yang beriman. Hendaklahkitaberlaku jujur, karena kejujuran mengantarkankepadakebaikan, dankebaikanmengantarkankitakepadasurga. Seseorangituselaluberlaku jujur danmembiasakannya, hingga di sisiAllah SubhanahuwaTa’ala dia di tulissebagai orang yang jujur. Orang-orang yang jujurdalamucapandanperbuatannya, akandicintaioleh Allah SubhanahuwaTa’ala dandicintaiolehmanusia. Setiapmajelismerasasenangapabilamerekadisebut, danhati pun menjadimenerimadenganlapangsetiap kali merekamembawaberita. Merekamemperolehbuahkejujuranmereka di duniadan di alamkubur. Apabilamereka di kumpulkan, setiaplisanselalumengucapkan kata pujianbagimereka. Hatimerekadipenuhi rasa cintadanpersaudaraan. Dan kejujuranitumencakupkeyakinan, ucapandanperbuatan.
Jujurdalamkeyakinan maksudnyaadalahkeikhlasanseseorangdalamberamal. Iatidakmengerjakanamalankarena riyâ` ataupun sum`ah. Adapun jujurdalamucapan, maksudnyadia jujur denganberita yang disampaikankepadanyasertaucapannyasesuaidengankenyataan. Diatidakmemberikankabarberita yang menyelisihikenyataan/realita, baikketikasungguh-sungguhmaupunsendagurau; baikketikasenangmaupunsempit. Diaselalumenyampaikanberitadalamkeadaansempitmaupunlapang; dalamkeadaanmarahmaupunridha, dalamseluruhmuamalahnya, baikberupasewamenyewamaupunjualbeli.
Adapunjujurdalamperbuatan, maksudnyaadalahiamengikutiNabi shallallahu ‘alaihiwasallam dalamamalibadahnyadansemuamuamalahnya, dengannasehat yang sungguh-sungguh. Jikadiabekerjauntuk orang lain, ia pun bersungguh-sungguhdanmenyelesaikannya.
Kita janganberkata dusta. Karenasesungguhnyadustaitumengantarkankepadaperbuatandosadanperbuatandosaitumenyebabkanmasukneraka. Seseorangitubilasenantiasaberbuatdustaniscayaditulis di sisi Allah Ta’ala sebagaipendusta. Dustaitudibencioleh Allah SubhanahuwaTa’ala danmanusia. Jikadiamenyampaikanberita, beritanyatidak tsiqah (terpercaya). Ketahuilahbahwadustainijugamencakupkeyakinan, perbuatandanperkataan.
Dustadalamkeyakinanmaksudnyaadalahperbuatanmanusia yang dilakukankarena riya`(pamer) danhanyamengharapkanpujianmanusiasemata. Allah SubhanahuwaTa’ala berfirman,
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَيُبْخَسُونَ {15} أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ النَّارَ وَحَبِطَ مَاصَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّاكَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang menghendakikehidupanduniadanperhiasannya, niscaya Kami berikankepadamerekabalasanpekerjaanmereka di duniadengansempurnadanmereka di duniaitutidakakandirugikan. Itulah orang-orang yang tidakmemperoleh di akhirat, kecualinerakadanlenyaplah di akhiratituapa yang telahmerekausahakan di duniadansia-sialahapa yang telahmerekakerjakan (Qs Hûd/11:15-16)
Adapun dusta dalamucapan, maksudnyaadalahmenyampaikanberita yang menyelisihikenyataan. Iniadalahperbuatan yang dilarang, baikperbuatan dusta itumemilikidampakmemakanharta orang lain danmenzhaliminyaataupuntidakmemilikidampaksekalipun. Semuabentukperbuatan dustaadalah haram dantercela, kecualiapabilamemilikimaslahat yang besar, seperti dustadalampertempuranmelawanmusuhdandustauntukmemperbaikihubunganantaramanusiagunamenghilangkanperselisihandankebencian. Dalamhadits, Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا
Akuadalahpemimpin di rumah yang adatengah di surgabagi orang-orang yang meninggalkandusta, walaupundalamkeadaansendagurau.(HR. Abu Dâwud 4800 darihaditsUmâmah radhiallahu ‘anhu)
Dusta itumemilikitingkatan yang berbeda-beda. Semakinbesarmadharatnya, semakinbesar pula dosanya. Adapun dustadalamperbuatan, maksudnyaadalah orang yang perbuatannyamenyelisihiucapannya. Seperti orang yang berpura-puramemberikannasehat, padahaldiahendakmenipu; seperti orang yang menampakkanbagianbarangdagangannya yang baik-baik, padahalsebaliknya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْانِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ الله َلِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ , فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
·         KHUTBAH JUMAT KEDUA

WahaikaumMuslimin, marikitabertakwakepada Allah SubhanahuwaTa’ala dan menegakkankejujuran dalamsegalakondisi agar kitamendapatkankeberuntungan. Allah SubhanahuwaTa’ala berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hai orang-orang yang berimanbertakwalahkepada Allah, danhendaklahkamubersama orang-orang yang benar. (Qs at-Taubah/9:119)
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُراْنِ الْعَظِيْمِ , وَنَفَعَنِيْ وَإِياَّكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اْلأَياَتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ , أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا واسْتَغْفِرُاللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِكَافَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَتْبٍ , فاَسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاَّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, وَأَقِمِ الصَّلاَةَ

Mencegah Akhlak tercela (Naufal)


Assalaamu'alaikum Warohmatuloh Wabarookatuh.       
                         

AZAN

Innal hamdalillahi nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalahu wa mayyudhlilfalaa haadiyalahu

ASYHADU ANLAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAAHU

WA ASYHADU ANNAA MUHAMMADAN ‘ABDUHUU WA RASUULUHUU
LAA NABIYYA BA’DAHU
Allahumma sholli wa sallam ‘alaa muhammadin wa ‘alaa alihii wa ash haabihi wa man tabi’ahum bi ihsaani ilaa yaumiddiin.

ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SYAYYIDINAA MUHAMMADIN

WA ‘ALAA AALIHII WA SHAHBIHII ‘AJMA’IIN

FA-UUSHIIKUM WA NAFSII BIT TAQUULLAAH

QAALALLAAHU TA’AALA FIIL QUR’AANIL KARIIM
A’UUDZUBILLAAHI MINASY SYAITHOONIR RAJIIM
yaa ayyuhalladziina aamanuu ittaqullaaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna ilaa wa antum muslimuun, ammaa ba’du..

Kutbah ke-1

Saudara saudaraku kaum muslimin yang berbahagia

     Marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Alloh dengan sebenar bnar taqwa. bukan hanya taqwa dalam ucapan saja, melainkan taqwa yang dinyatakan dalam amal perbuatan  sehari-hari dalam keadaan sepi maupun dalam keadaan ramai. ketauhilah dengan kita senantiasa bertakwa maka harapan besar kelak pada akhirnya kita di dalam menghadapi ajal mendapat pertolongan dan hidayah dari Alloh, sehingga kita akan mati dalam keadaan islam.
Kaum muslimin jama'ah jum'ah yang berbahagia.
     Bagi setiap muslim wajib mencegah segala bentuk akhlak tercela, dan berhias diri dengan akhlak mulia. sebabakhlak tercela hanya akan mejerunmuskan seseorang kejurang kehinaan, kesengsaraan, dan kehancuran. sebaliknya, akhlak mulia akan mengantarkan seseorang meraih kesuksesan, kemuliaan dan kebahagiaan. Perihal mencegah akhlak tercela, banyak di terangkan dalam Al-qur'an. Diantaranya adalah :
                                      فمن يعمل مثقال ذرۃخيرايره٫ومن يعمل مثقال ذرۃشرايره
     Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat balasannya. dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat balasanya pula. ( QS. Az Zalalah: 8-9 )


Dan banyak lagi yg terdapat dalam alqur'an diantaranya Qs. Albaqoroh 81, Qs. Al jatsiah:21, Qs. Yusuf :53.


Kaum muslimin rohimakumulloh
     Rosululloh lewat hadist-hdistnya juga menganjurkan kepada umatnya agar senantiasa mencegah segala bentuk akhlak tercela, baik di tengah kehidupan keluarga maupun di tengah kehidupan masyarakat.


Rosululloh saw bersabda, "akan menimpa umatku penyakit-penyakit bangsa, yakni sombong, ingkar nikmat,berbanyak-banyakan harta, bermusuhan adlam urusan dunia, benci-membecni dan saling mendengki, sehingga terjadilah kezaliman yang luar biasa". (HR.Hakim).

     Bersikap keras sombong banyak berteriak di pasar-pasar, tidur melulu di waktu malam, banyak berbicara kasar di waktu siang hari, lincah mencari dan menyelesaikan urusan duniawi dan lupoa terhadap amal perbuatan yang menyelamatkan dirinya di akhirat, adalah termasuk akhlak yang tercela. Karena itu Alloh sangat membencinya. Demikian pula dengan ingkar nikmat, berlomba mencari harta, bermusuhan, benci membeci dan dengki mendengki. Semua itu sumber terjadinya kezaliman yang menghantarkan kehancuran sebuah bangsa.
     Apabila kamu melihat Alloh memberikan kekayaan yang disenangi kepada seseoarang padahal dia seorang yang durhaka, maka itu hanyalah istridraj (agar dia beratmabah durhaka)."
Kemudian Rosululloh membaca ayat: 44 suroh Al Ana'am yang menegaskan:"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah di berikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah di berikankepada mereka. Kami sikasa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. " (Hr. Ahmad dan Tabrani).
     Orang yang durhaka apabila mendapat kenikmatan semata-mata hanya untuk istidroj, agar bertambah durhakanya.Namun pada saatnya dia akan di beri musibah yang datangnya secara tiba-tiba, sehingga mereka merasa berputus asa. Sebab kesombongan yang berupa kedurhakaan hanya kan menghantarkan pelakunya mendapatkan murka Alloh swt. dan pada hakekatnya musibah yang menimpa seseoarng akibat dari perbuatan dosa yang dilakukanya.
                                           ويل لمن يكثرذكرالله فى لسا نه ويعص الله فى عمله
     Celakalah bagi orang yang banyak mengingat Alloh dengan lisannya, dan durhaka kepada Alloh dengan aamal perbuatanya. (Hr. Dailami).


     Rosululloh telah bersabda:" Dosa adalah racun bagi orang lain selain pelakunya. Jika orang lain itu mencacinya, maka dia mendapat cobaan. jika dia mengampuninya, maka dia berdosa, Namun jika dia meridhoinya maka dia bersekutu dengannya dalam dosa." (Hr. Dailami).

     Kaum muslimin yang berbahagia.

     Bagi seseorang yang lisannya rajin berdzikir namun perilakunya slalu bermaksiat, dia akan mendapatkan kecelakaan dan kerugian yang besar. Demikian pula bagi seseorang yang menbcari pujian dari sesama orang yang memujinya itu pasti akan berbalik mencaci maki dirinya. Dan bagi orang yang melakukan dosa, dia jelas menerima akibatnya. Tetapi bagi orang yang menyaksikanya , maka hal tersebut adlah racun. Mencaci, mendapat cobaan. mengumpat ikut berdosa. Dan meridhoi, berarti menceburkan diri dalam perbuatan dosa pula. sebab senua itu termasuk akhlak tercela.
     Diriwayatkan dari ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya Rosululloh telah bersabda:" maukah aku beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang sangat buruk di antara kamu?"Mereka menjawab:" Ya, bila engkau menghendaki, ya Rosululloh." Rosululloh kemudian bersabda:"Sesungguhnya orang orang yang sangat buruk diantara kamu adalah orang yang tinggal sendirian, menjilid (memukul) hambanya, dan menolak kumpulannya. 
     maka dari itu Rosululloh secara tegas telah menerangkan tentang siapa saja di antara umat manusia yang di kategorikan orang yang buruk, orang yang lebih buruk, dan orang yang paling buruk di antara mereka. Ketiga tingkatan tersebut di duduki oleh mereka yang memiliki akhlak tercela. karena itu, setiap muslim harus menghindari dan berhias diri dengan akhlak mulia.

Kutbah ke-2

Allahummagh fir lilmuslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati.

Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa. Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa.Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fua ‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina.
Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

Nikmat Allah swt (Itsna)


Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh.
Bapak/Ibu Guru yang saya hormati dan teman-teman yang saya sayangi.
Alhamdulillahirobbil alamin. Alhamdulillahilladzi fabiayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban. Allahumma shalli 'alaa sayyidinaa muhammad wa 'alaa aali sayyidinaa muhammad amma ba’du. Robbisy rohli sodrii wayassirlii amrii wahlul ‘uqdatammillisaanii yafqohuu qauli. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena atas nikmat dan karunia-Nya, kita dapat bertemu dalam keadaan sehat wal’afiat.
Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang keberadaanya menjadi teladan utama bagi seluruh umat.
Hadirin Rakhimakumullah,

Sesungguhnya semua yang kita dapatkan dan diterima dari Allah merupakan nikmat Allah yang tak terbantahkan. Hingga Allah telah 31 kali mengucapkan dengan bertanya demikian di dalam Alquran Surat Ar-Rahman, "Maka Nikmat Tuhanmu Yang

Manakah Yang Kamu Dustakan?".
Allah ta’ala berfirman dalam QS Ar-Rahman,
“Fabiayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban”
 “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat ini mensuratkan dengan jelas, bahwa banyak sekali nikmat Allah yang diberikan kepada manusia. Indahnya hidup, kesehatan, pohon yang tumbuh subur, hijaunya rerumputan, gugurnya daun-daun, kekayaan laut, dan masih banyak lagi, bahkan tak terhitung. Anda bisa membayangkan nikmat itu?
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitung jumlahnya.
 “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS Ibraahiim:7)
Allah memberikan peringatan, agar kita banyak bersyukur atas nikmat melimpah dari Allah SWT. Celakalah bagi orang yang mengkufurinya. Apabila kita mau instropeksi diri, ada banyak kenikmatan yang diberikan Allah SWT yang tidak kita sadari. Justru pada saat kita diuji dengan sebuah cobaan, pikiran kita hanya terfokus pada kesusahan tersebut dan mengabaikan segala kenikmatan yang diberikan. Seolah-olah kita adalah orang yang paling menderita dan sengsara di dunia.
Faktanya, Allah SWT menguji manusia dengan berbagai hal, mulai dari kenikmatan dan kesusahan, kesempatan maupun kesempitan, sakit maupun sehat, kelebihan uang dan kekurangan uang. Masing-masing sifat yang berlawanan ini digunakan untuk menguji keimanan manusia, apakah dengan kondisi tersebut, manusia masih mengingat Tuhannya dan bertakwa?
Hadirin Rakhimakumullah,
Satu hal penting yang perlu diingat, bahwa Allah SWT tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan kita. Allah SWT hanya ingin mendidik kita dengan berbagai macam cara, mulai dari kesulitan hingga kesenangan agar kita layak menjadi manusia beriman yang utuh. Dan Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan dan berhati-hatilah dengan prasangka buruk dan keluhan, supaya tidak menjadikan kita termasuk golongan orang yang lupa bersyukur. Maka dari itu, sudah seharusnyalah kita pandai-pandai bersyukur. Tak perlu menyombongkan diri, tak perlu mengeluh, yang perlu hanyalah bersyukur.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Semoga bermanfaat untuk kita semua. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

JalanMendekatiTuhan (Raka)




الَحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ الحَيَاةَ رَأْسَ مَالِنَا فِيْ هَذِهِ الدَّرِ. وَبِهَا يَتَمَكَّنُ اَنْ نَعْمَلَ لِسَعَادَةِ دَارِ الْقَرَارِ. اَشْهَدُ اَنْ لَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ اَمَرَنَا اَنْ نَفْعَلُ الخَيْرَ وَ نَتْرُكُ الشَّرَّقَ فِيْ خُشُوْعٍ وَاِخْلاَصِ السَيْدِ الاَخْيَارِ. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تَرَكْنَا عَلَى الخَنِيْفِيَّةِ السَّمْحَةِ لَيْلِهَا كَالنَّهَارِ. اَللَّهُمُ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الهُدَاةِ الْاَطْهَارِ. اَمَّابَعْدُ فَيَاعِبَادَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَّقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
Marilahsenantiasakitatingkatkantaqwakitakepada Allah SWT dengansebenar-benarnya, yaitudenganmenajalankansyari’atislamdenganbersungguh-sungguhdalamartianmelaksanakansemuaperintahNyadanmenjuhisegalaapa yang dilarangNya.
Saudara-saudaraqaummuslimin yang berbahagia !!!
Sesungguhnya Allah SWT amatdekatdenganmanusia, lebihdekatdaripadauratnadikitasendiri, sebagaimanaditerangkandidalam Al-Qur’an:
وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ  مِنْ حَبْلِ الوَرِيْدُ  (ق: ١٦)
Artinya: “Dan kami lebihdekatkepadanyadariuratnadinya (lehernya)”. (Qaf: 17)
Maksuddariayarinisebenarnyaialah Allah  lebihmengetahuikeadaankitadaridirikitasendiri. DisinibukanhendakdibicarakantentangdekatataujauhnyaTuhankepadakita.Tetapitentangjalan yang dapatmendekatkandirikepadanyasupayamendapatkankeridhaannya.
Kedudukankitaakandekatkepada Allah jikalaukitatermasukkedalamgolongan MUQARRABIN, yakni orang-orang yang mendekatkandiri. Dan jauhkedudukankitakepada Allah jikalautermasukkedalamgolongan  MAGHDHUBIN (orang-orang yang sesat/dibenci) kalaukitajalankanperintah Allah danmenjauhilarangannya, makakitatergolongkedalamqaum MUQARRABIN. Dan sebaliknya, kitaakanmendapatgelar MAGHDHUBIN. Jadikedudukankitabisadekatkepada Allah danbisajugajauhdaripada-Nya.
AdapunjalanmendekatiTuhan, tidakdapatkitatempuhdarimelaluisatujalansaja, sepertidarisudutakhiratsaja, ataukeduniaansaja.Karena agama islamituadalah agama duniaakhirat. Diduniakitaharusbaikdanakhitarjugaharusbaik agar kehidupanduniaakhiratdapatstabil.Sebagaimana Allah SWT mengajarkakitaberdoadidalam Al-Qur’an:
ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار (البقرة ١٠٢)
Artinya: “YaTuhan kami, beriakankah kami kebaikandidunia, dankebaikandiakhirat, danselamatkanlah kami darisiksaanneraka”. (al-Baqarah: 102)
Dan Nabikita Muhammad SAW  telahbersabda:
ليس بخيركم من ترك الدنياه لاخرته, ولاخرته لدنياه, حتي يصيب منهما جميعا فأن الدنيا بلاغ ألى الاخرة, ولاتكونوا كلا على الناس (ابن عساكر)
Artinya: “Bukanlah orang-orang yang paling baikdaripadakamusiapa yang meninggalkandunianyakarenaakhirat, dantidak pula meninggalkanakhiratnyakarenadunianya, sehinggaiadapatkedua-duanyasemua. Karena di duniaitupenyampaikanakhirat.Dan jangankahkamujadimemberatkanatassesamamanusia“.  
Saudara-saudara yang berbahagia !!!
Manusia di jadikanolehtuhan di duniaini,adalahbertanggungjawabdihadapanTuhanatassegalausahadalampenghidupandidunia.segalanikmatyanng di berikanolehtuhankepadanya, sepertikekuatandanpengetahuanharus di gunakan di jalan yang di benarkanoleh Allah SWT, menurutpetunjuk-Nya, untukmencarikeridhoan-Nya. Pendeknyakitaharusberusahauntukkebaikanduniainidengansegalakemampuan yang adapadadirikita,  yaitukebaikan yang akan di rasakanolehkeluarga, bangsadanmanusiaseluruhnya.
Semakinrajinkitamenunaikantugaskewajibandantanggungjawabuntukkemaslahatanumum, makasemakindekatpulalahkedudukankitakepada Allah SWT, dansemakinmelimpahruahnikmatnyakepadakita di sampingmengerjakankewajibanindividukepada Allah seperti; sholat, puasa, zakat danhaji.Sebaliknyasemakinmalasdanengganmenunaikantugasdantanggungjawabmakasemakinjauhlahkedudukankitadansemakinmenjauhrahmat  Allahdaridirikita. Makajalanmendekatituhanitu, ialahbekerjasungguh-sungguh didalamurusanduniawiini  untukkebaikandankemaslahatanummatmanusia, agar denganusahanyaitukeadaanummatmenjadilebihbaik, disampingiamenjalankankewajibannyadalanhal ‘ubudiyahkepadaAllas SWT.
Semogadengan yang adilitu, yaknitidaktidaktebangpilih, antaraurusanduniawidanukhrawi.Allah tetepmenolongruanggerakkitadanamalibadahkitauntukkebaikankitadiduniadan di akhirat. Amin Allahumma Amin YRB.....
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتُّقُوْا رَبَّكُمْ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَاَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ اِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ. (الزمر: ١٠)
Artinya: “Katakanlah: haihamba-hambaku yang beriman, takutlahkepadatu hanmubagi orang-orang yang berbuatkebaikan, di duniainiadakebaikan. Dan bumi Allah ituluassesungguhnya orang-orang yang sabaritudisempurnakanganjarannyadengantidakterhitung”.  
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْاَنِ عَظِيْمِ. وَنَفَعْنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلَايَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمَنْكُمْ  تَلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ الْعَلِيْم. اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُاللَه الْعَظِيْمِ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتُ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتُ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُرُ الرَّحِيْمِ.

Iman (Arvien)


Assalamu alaikum wr wb
bismillaahir rahmaanir rahiim
innalhamdalillaah nahmaduhuu wa nasta’iinuhuu wa nastaghfiruhu wa na’uudzubillaahi min syuruuri ‘anfusinaa wa min syayyi-aati a’maalinaa man yahdillaahu falaa mudhillalahu wa man yudhlilhu falaa haadiyalah
asyhadu anlaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalaahu wa asyhadu annaa muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluhuu laa nabiyya ba’dahu
allaahumma shalli ‘alaa syayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihii wa shahbihii ‘ajma’iin

fa-uushiikum wa nafsii bit taquullaah qaalallaahu ta’aala fiil qur’aanil kariim a’uudzubillaahi minasy syaithoonir rajiim. yaa ayyuhal ladziina ‘aamanuu, ittaquullaaha haqqaa tuqaatihi wa laa tamuutunnaa illaa wa antum muslimuun
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. INTISARI QUR'AN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger