A.Letak
Geografis
Makkah
terletak di sebelah barat jazirah Arab dan Najed, kota ini (dimasukkan) dalam
wilayah Tuhamah, sebelah utaranya terdapat Kota Madinah Al-Munawarah. Sedangkan
sebelah timurnya Kota Najed dan Riyadh, sebelah Yaman.
Dari sebelah
barat Kota Jeddah, kota ini berada dalam ketinggian ± 330 m dari permukaan
laut. Dan jarak antara Kota Makkah dan Jeddah setelah pembuatan jalan baru
sekitar 60 km, sedangkan dengan Madinah kalau melewati jalan hijrah sekitar 445
km.
Makkah terletak
antara dua gunung sehingga bangunan yang ada di kota ini kalau dilihat dari
jauh tidak akan kelihatan. Dua gunung tersebut adalah Gunung Falaq atau Falah
yang terletak di sebelah Makkah dan memanjang ke arah Barat. Gunung Quai Quan
yang tingginya hampir sama dengan gunung Hindi, Luk-luk dan Kaddi.
B.Latar
belakang
Pada saat masyarakat Arab melaksanakan
peribadatan terhadap Ka’bah dan penyembahan berhala, juga patung-patung yang
disucikan oleh seluruh Bangsa Arab, cita-cita Rasulullah saw untuk memperbaiki
keadaan mereka(menyebarkan islam ke orang terdekat dahulu )
Kemudian secara terang terangan untuk
menyebarkan agama islam dan aturannya
C.Faktor pendukung
Keluarga dan sahabat Nabi yang masuk Islam pada tahap ini antara
lain Khadijah, Abu Bakar as-Siddiq, dan Ali bin Abi Talib. Kedua, dakwah secara
terang-terangan, yang dilakukan Nabi setelah turun perintah Allah (Q.15:94).
Dakwah ini berlangsung hingga Nabi wafat. Banyak sahabat yang memeluk Islam
pada masa ini, antara lain Umar bin Khattab dan Usman bin Affan.
(pendukung nya adalah keluarga dan kerabat rasulullah)
D.Strategi dakwah nabi
a.Dakwah secara sembunyi-sembunyi (selama 3 tahun)
Pada saat masyarakat Arab melaksanakan peribadatan
terhadap Ka’bah dan penyembahan berhala, juga patung-patung yang disucikan oleh
seluruh Bangsa Arab, cita-cita Rasulullah saw untuk memperbaiki keadaan mereka
tentu bertambah sulit. Maka dalam menghadapi kondisi tersebut, tindakan yang
paling bijaksana adalah dengan memulai dakwah secara sembunyi-sembunyi, agar
penduduk Makkah tidak kaget karena harus menghadapi sesuatu yang menggusarkan
mereka dengan tiba-tiba
b. Dakwah secara terang-terangan
Wahyu pertama yang turun dalam masalah ini adalah
firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Asy-Syu’ara ayat 214, “Dan, berilah
peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat.” Permulaan ayat Asy-Syu’ara
yang memuat ayat ini menyebutkan kisah Musa as dari permulaan nubuwah hingga
hijrah beliau bersama Bani Israel, dan tahapan-tahapan yang dilalui Musa as
selama menyeru Fir’aun dan kaumnya kepada Allah SWT. Hal ini disampaikan agar
Rasulullah saw dan para sahabatnya memperoleh sedikit gambaran mengenai hal-hal
yang akan mereka hadapi ketika menampakkan dakwah.
Langkah pertama yang Rasulullah saw lakukan
setelah turun ayat tersebut, ialah dengan mengundang Bani Hasyim. Mereka
memenuhi undangan ini, sejumlah empat puluh lima orang dari Bani Al-Muththalib
bin Abdi Manaf, dan terjadi dialog pembuka, yang diawali oleh Abu Lahab yang
mewakili Bani Al-Muththalib bin Abdi Manaf dengan Rasulullah saw yang mulai
menjelaskan mengenai surga dan neraka. Pada akhir dialog tersebut, mereka
mengingkari segala yang disampaikan oleh Rasulullah saw, kecuali Abu Thalib,
yang telah mendukung dan akan melindungi Rasulullah saw selama hidupnya.
E.Rintangan dakwah Nabi
Rintangan Da’wah Nabi Muhammad, kurang lebih hampir
sama dengan Perjuangan Nabi Musa dalam menegakkan kalimat Allah di negeri
Mesir.
Setelah Nabi Muhammad mendapat perintah da’wah
kepada karib kerabatnya, maka tindakan beliau yang pertama adalah beliau
mengundang karib kerabat dekatnya di kaki bukit Shafa untuk menyampaikan da’wah
beliau. Pada pertemuan pertama itu inilah pidato Nabi dihadapan
Karib-kerabatnya :
"Bagaimana menurut pendapat kalian,
jikalau saya memberitahukan kepada kalian, bahwasanya ada seekor unta keluar
dari dalam gunung ini lalu ia hendak merobah kalian semua, apakah kamu
membenarkan cerita saya ini?"
Yang hadir menjawab : “Ya
kami percaya, selama ini kami tidak pernah mengetahui bahwa engkau (Muhammad)
itu adalah pendusta”
Nabi Muhammad kemudian bersabda :
“Bahwa sesungguhnya saya ini pemberi ancaman
kepada kalian, dihadapan azab Tuhanmu yang amat keras”
Baru sekian pidato Nabi, tiba-tiba berdirilah
Abdul ‘Uzza (Abu Lahab) dan dengan suara keras dia menegur Nabi :
“Binasalah kamu Muhammad ! Apakah hanya untuk
ini saja kamu kumpulkan kami semua ?
Sama sekali belum pernah ada orang yang datang
kepada keturunan orang tuanya dan kaumnya yang lebih keji dari pada apa yang
kamu bawa itu”
Nabi kemudian terdiam, maka turunlah wahyu surat
Al-Lahab sebagai berikut :
Tabbat yadaa abii lahabin wa tabb.
Sia-sia jualah ujudnya tipu daya penghasut
perang dan pasti sia-sia
Abu Lahab masih terbakar emosinya dan terus
mengucapkan kata-kata ancaman kepada Nabi :
"Jika apa yang dikatakan Muhammad itu
benar, maka saya akan tebus dari padanya itu dengan harta dan anakku".
Maka Allah menurunkan wahyu selanjutnya :
Maa agnaa ‘anhu maaluhuu wa maa kasab
Tidak akan ada gunanya mereka mengeluarkan
segenap dana dan daya
Sayashlaa naaran zaata lahab
Hanya akan membakar diri dengan api perang
semesta
Wam-ra-atu-huu hammaa latal hatab
Dan juga kaum wanitanya yang turut serta
Fii jiidihaa hablunm mimmasad
Ikut terjerat oleh akibat perang angkara.
Demikianlah selanjutnya Nabi Muhammad menghadapi
tantangan yang amat berat dari kaum Quraisy yang dalam sejarah dikatakan ada
tiga factor kenapa kaum Quraisy pada mulanya menolak da’wah Nabi tersebut
adalah sebagai berikut :
Yang pertama karena adanya taklid kepada ajaran
Nenek Moyang mereka, baik mengenai aturan hukum maupun aturan peribadatan
yang banyak menggunakan simbol-simbol patung disekitar Ka’bah.
Yang kedua adalah Da’wah Nabi Muhammad
membawakan ajaran persamaan hak dan derajat, sementara
Bangsa Arab merasa lebih tingga dari pada budak-budak mereka sehingga apa yang
dibawa oleh Nabi Muhammad mereka tolak dengan kesiapan untuk perang sampai
titik darah yang penghabisan.
Yang ketiga adanya persaingan perebutan
kekuasaan untuk menjadi Penguasa di Kota Mekah, khususnya
dalam pengurusan Ka’bah.
Dari semua pengalaman Nabi-Nabi itu, mereka selalu
memenangkan perjuangan melawan kebathilan sehingga memang amat sulit jika kita
bandingkan dengan Da’wah masa kini, yang berfungsi hanya untuk menghibur orang
dan bukan menyatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah walalupun
pahit bagi dirinya.
Menjadi pertanyaan besar bagi kita bagaimana
tantangan Da’wah abad kedua-puluh satu ini, jika ada seruan dari Allah agar
meninggalkan ajaran Nakek-Moyang kalian dan kembalilah kepada Ajaran Allah yang
dapat menjamin satu kehidupan saling memakmurkan, saling memuliakan, saling
mensejahterakan diantara penduduk negeri ini.
Jawabannya adalah, selama masih ada syetan yang
membawakan pengaruh dari Iblis terlaknat kepada anak Adam, maka apa yang
dilarang dalam ajaran Allah akan menjadi baik dalam pandangan hidup pendukung
Dzulumat menurut Sunnah Syayatin, sebaliknya apa yang disuruh menurut Ajaran
Allah akan menjadi jelek dalam pandangan pendukung Dzulumat menurut Sunnah
Syayatin.
Semuanya terpulang kepada kita Umat Islam, apakah
kenyataan ini sebagai hasil dari suatu Kemerdekaan, akan terus dipertahankan,
ataukah kita perlu mereformasi Ajaran Nakek-Moyang dengan Ajaran Allah yang
Maha Mulia itu.
Hidup memang terlalu singkat pada waktu yang telah
dilalui, tapi terlalu lama untuk masa yang akan datang, Ingat saudara : “Allah
tidak akan merobah nasib suatu bangsa kecuali Bangsa itu mau merobahnya dengan
Qalam Allah menurut Sunnah Rasul-Nya”.
Berda’walah seakan-akan Allah yang berda’wah, dan
terimalah bentuk olok-olokan mereka atau bahkan penghinaan mereka sebagai satu
shadaqah sambil berdo’a semoga Allah memaafkan mereka, karena mereka belum tahu
apa itu ajaran Allah menurut Sunnah Rasul-Nya.
Selanjutnya serahkan kepada Janji Allah, bahwa
apabila Da’wah telah disampaikan, dan manusia masih saja menolak sambil
bermain-main dalam hidup dan kehidupan ini, maka Sunatullah yang telah berlaku
pada masa terdahulu akan berulang kembali berupa azab yang amat pedih, Azab itu
datang bisa siang bisa di malam hari ketika manusia sedang tertidur lelap, bisa
berupa angin putting beliung selama tuju hari tuju malam, atau dalam bentuk
Gempa dahsyat sehingga permukaan bumi ini dibalik yang dibawah menjadi diatas
dan Kota maupun Desa tertimbun sudah, bisa juga dengan Banjir besar karena Es
di Kutub mencair disertai badai selama berhari-hari, bisa dengan berbagai
penyakit menular dan sebagainya. Sunatullah ini masih berlaku karena ini semua
merupakan janji Allah kepada para Nabi dan Orang-orang Beriman.
E.Bukti
peninggalan
Kunci Ka’bah
Pedang Rasulullah SAW
G.Hikmah
mempelajari Sejarah Dakwah
·
Mengimani dengan
sebenar-benarnya bahwa Muhammad saw adalah rasul dan nabi penutup para nabi
·
Mencintai Rasullulah
·
Sabar dalam berdakwah dan
mempelajari ilmunya atau menyebarkannya
·
Bersyukur terhadap apa yang
telah ada